Fred VanVleet mengalami cedera lutut kanan saat menjalani minicamp Houston Rockets di Bahama pada September lalu. Insiden ini terjadi tepat menjelang dimulainya kamp pelatihan musim baru, membuat rencana awal tim harus berubah cepat. Rockets sebelumnya berharap VanVleet menjadi salah satu pengatur serangan utama, tetapi kini mereka harus mengatur ulang ritme permainan dan mengandalkan kombinasi pemain lain untuk mengelola bola serta membangun serangan.
Performa Musim Lalu yang Sulit Tergantikan
Pada NBA 2024–2025, Rockets memasuki musim sebagai unggulan kedua di Wilayah Barat, berbekal catatan 52–30 di musim sebelumnya. Rekor itu menjadi yang terbaik yang mereka raih dalam enam tahun terakhir, sekaligus memutus periode stagnasi yang berlangsung cukup lama. Meski begitu, perjalanan playoff mereka belum mulus. Rockets harus terhenti di ronde pertama setelah menjalani tujuh gim ketat melawan Golden State Warriors, sebuah seri yang menguras energi namun belum membawa mereka melaju lebih jauh.
Dalam kebangkitan performa musim lalu, nama VanVleet menjadi salah satu pilar penting. Mantan pemain Toronto Raptors itu mencatat rata-rata 14,1 poin, 3,7 rebound, 5,6 assist, dan 1,6 steal per gim. Kontribusi ini tidak hanya terlihat di lembar statistik, tetapi juga terasa dalam stabilitas serangan dan kontrol tempo permainan yang ia bawa di lapangan. Tanpa dirinya, Rockets kini berada di fase di mana kedalaman roster dan keputusan tim secara kolektif harus mengambil alih peran yang sebelumnya banyak bertumpu pada kehadiran VanVleet.
Rehabilitasi Intensif, Peluang Kembali Masih Terbuka
Menurut laporan insider NBA, Rockets tidak sepenuhnya menutup pintu bagi kemungkinan comeback VanVleet di musim berjalan. Marc Stein menuliskan bahwa tim tidak akan memberi jaminan waktu kembalinya sang pemain, tetapi juga tidak menyingkirkan opsi tersebut. VanVleet dikabarkan menjalani proses pemulihan secara intensif dan bekerja keras dalam rehabilitasi, bahkan untuk mempertimbangkan peluang tampil di akhir musim jika progresnya mendukung.
Rockets sendiri saat ini tidak mengikat strategi mereka pada satu nama saja. Mereka tetap mempertahankan pendekatan kompetitif berbasis tim, memadukan kemampuan pemain yang tersedia untuk menjaga efektivitas serangan dan kontrol permainan. Fokus mereka kini bukan pada memastikan kembalinya VanVleet, tetapi pada bagaimana tim tetap kompetitif meski salah satu pilar serangan mereka mengalami cedera serius.

Posisi Rockets di Musim Ini dan Tantangan ke Depan
Tanpa VanVleet di rotasi utama, Rockets tetap menunjukkan bahwa mereka masih menjadi tim yang solid dan berbahaya. Musim ini, mereka bermain di bawah kombinasi kekuatan pemain senior dan pemain inti yang sedang berkembang, termasuk kehadiran Alperen Sengun di bawah ring dan kemampuan pengatur bola dari beberapa nama yang kini harus tampil lebih sering.
Rockets masih berada dalam jajaran tim dengan peluang besar di NBA edisi ke-80. Catatan 21–11 membuat mereka bertahan di peringkat atas klasemen Wilayah Barat. Mereka kini menempel ketat di belakang Oklahoma City Thunder, San Antonio Spurs, dan Denver Nuggets—tiga tim yang saat ini memimpin persaingan. Rekor Rockets bahkan identik dengan Los Angeles Lakers yang berada di posisi kelima, menunjukkan bahwa mereka tidak kehilangan status sebagai salah satu tim kompetitif di konferensi tersebut.
Namun, tantangan mereka belum selesai. Cedera pemain inti, kebutuhan memperkuat kedalaman serangan, dan stabilitas strategi jangka panjang menjadi faktor yang akan menentukan apakah Rockets mampu mempertahankan ritme panas mereka hingga akhir musim. Kembalinya VanVleet di beberapa gim akhir musim mungkin bisa memberi dorongan moral, tetapi secara strategis, Rockets tidak bisa menggantungkan masa depan mereka pada satu pemain saja.
Jejak Karier dan Kontrak VanVleet di Houston
VanVleet kini memasuki musim ke-10 di NBA. Setelah membantu Toronto Raptors menjadi juara pada 2019 dan mencatat All-Star pertamanya pada 2022, ia bergabung dengan Rockets pada musim panas 2023. Ia menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun dengan nilai sekitar 130 juta Dolar AS, sebuah kesepakatan besar yang memperlihatkan betapa tim melihatnya sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar solusi sementara.
Meski begitu, cedera ACL yang ia alami di awal musim memunculkan kenyataan baru: proses comeback-nya akan memakan waktu dan penuh ketidakpastian. Rockets kini berada di fase adaptasi—menata ulang ritme serangan, mengelola modal permainan berbasis roster yang tersedia, dan tetap menjaga peluang bersaing di Wilayah Barat, sembari menunggu progres pemulihan sang pemain dari jauh, tanpa memaksakan timeline yang tidak berbasis peluang.
